Lingkaran.net - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan akan segera membongkar fasad eks Toko Nam yang berada di kawasan Jalan Embong Malang. Langkah ini diambil untuk mengembalikan fungsi pedestrian sekaligus menata ulang estetika kawasan pusat kota.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan kondisi bangunan tersebut sudah tidak layak dipertahankan. Selain dinilai rapuh, keberadaan fasad juga kerap mengganggu aktivitas pejalan kaki karena berdiri di atas jalur pedestrian.
Baca juga: Kejurnas Drag Race Indonesia 2026 Digelar 7 Kota, Seri Pembuka di Surabaya
“Dari sisi estetika juga kurang baik, dan sering dimanfaatkan untuk aktivitas yang tidak semestinya. Maka kita kembalikan fungsi pedestrian sebagai ruang publik yang nyaman,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Status Cagar Budaya Dicabut
Eri menjelaskan, fasad eks Toko Nam sebelumnya sempat berstatus sebagai bangunan cagar budaya. Namun, setelah dilakukan kajian ulang oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, bangunan tersebut dinyatakan tidak memenuhi kriteria.
Meski begitu, ia mengakui lokasi tersebut memiliki nilai historis penting. Dahulu, kawasan Toko Nam dikenal sebagai titik berkumpul arek-arek Surabaya sebelum melakukan perlawanan terhadap penjajah.
“Secara sejarah tempatnya penting, tapi bangunannya bukan cagar budaya,” tegasnya.
Fasad Bukan Struktur Asli
Baca juga: ASN Surabaya Wajib WFH Tiap Jumat, Ini Aturan Baru dan Dampaknya
Sejarawan sekaligus Dekan FIB Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menjelaskan bahwa fasad yang berdiri saat ini bukan bagian asli dari bangunan Toko Nam.
Menurutnya, bangunan asli telah dibongkar saat pembangunan kompleks Tunjungan Plaza pada akhir 1990-an. Fasad yang ada sekarang merupakan struktur baru yang dibangun tanpa kajian teknis maupun studi kelayakan pemugaran cagar budaya.
“Hasil kajian menunjukkan tidak ada kesamaan dari sisi bentuk, bahan, warna, hingga teknik pengerjaan dengan bangunan asli. Artinya, fasad ini bukan bagian autentik,” jelasnya.
Kajian tersebut juga mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menyebutkan bahwa bangunan yang telah kehilangan keaslian dapat dihapus status cagar budayanya.
Baca juga: Pemkot Surabaya Larang Siswa SMP Kendarai Motor, Bus Sekolah Jadi Solusi
Diganti Penanda Sejarah yang Lebih Artistik
Sebagai pengganti, Pemkot Surabaya berencana menghadirkan tetenger atau penanda sejarah di lokasi tersebut. Penanda ini akan dibangun bekerja sama dengan pengelola Tunjungan Plaza, dengan konsep yang lebih artistik dan menyatu dengan lingkungan sekitar.
Gagasan ini juga sejalan dengan usulan pegiat cagar budaya, Freddy H. Istanto, yang mendorong agar jejak sejarah Toko Nam tetap dihadirkan dalam bentuk yang lebih kontekstual dan menarik.
Dengan langkah ini, Pemkot berharap tidak hanya mengembalikan fungsi pedestrian, tetapi juga tetap menjaga memori kolektif warga terhadap sejarah Kota Surabaya—tanpa mengorbankan tata ruang dan estetika kota.
Editor : Setiadi