x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Ke Mana Aliran Uang Korupsi ESDM Jatim? Pengamat Desak Usut Tuntas Hingga Akar

Avatar Alkalifi Abiyu

Umum

Lingkaran.net - Skandal korupsi yang menyeret Kepala Dinas ESDM Jawa Timur, Aris Mukiyono, bukan sekadar kasus pungutan liar (Pungli) biasa. Di balik angka miliaran rupiah yang diamankan penyidik, muncul pertanyaan besar yang kini mulai mengemuka yakni ke mana aliran uang itu sebenarnya mengalir? 

Pengamat kebijakan publik, Dr. Umar Sholahudin, menilai kasus ini harus dibongkar hingga ke akar, termasuk menelusuri kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas di balik praktik kotor perizinan. 

“Perlu diusut tuntas dan diinvestigasi, uang hasil korupsi itu lari dan mengalirnya ke mana saja?” tegasnya, Senin (20/4/2026). 

Ia menyebut, penetapan Aris Mukiyono sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur menjadi ironi di tengah maraknya operasi tangkap tangan (OTT) yang sebelumnya menjerat sejumlah kepala daerah di Jawa Timur. Alih-alih menimbulkan efek jera, praktik korupsi justru terus berulang. 

“Ini menunjukkan tidak ada efek jera. Pejabat seperti tidak belajar dari kasus-kasus sebelumnya,” ujarnya. 

Modus Lama, Sistem Baru: OSS Disalahgunakan 

Kasus ini semakin serius karena menyentuh sektor strategis yakni perizinan tambang dan pengusahaan air tanah. Penyidik menemukan modus pemerasan dengan cara memperlambat proses melalui sistem Online Single Submission (OSS). 

Pemohon yang tidak “membayar” dipersulit, meski seluruh syarat telah lengkap. Sementara yang memenuhi permintaan, prosesnya dipercepat. 

Dari hasil penggeledahan, penyidik menyita uang mencapai Rp2,36 miliar dari tiga tersangka, termasuk Aris Mukiyono dan dua pejabat lain di lingkungan ESDM Jatim. Uang tersebut diduga berasal dari praktik pemerasan dalam berbagai jenis perizinan. 

Namun bagi Umar, angka tersebut belum tentu mencerminkan keseluruhan praktik yang terjadi. 

“Ini bukan sekadar oknum, tapi indikasi adanya sistem. Sangat mungkin aliran dana tidak berhenti di satu dua orang,” katanya. 

Kasus ini juga membuka borok lemahnya pengawasan internal di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Umar menilai fungsi kontrol, terutama dari inspektorat daerah, tidak berjalan efektif. 

“Pengawasan internal seolah mandul. Ini harus jadi evaluasi serius bagi Khofifah Indar Parawansa untuk membenahi seluruh OPD,” tegasnya. 

Ia mendorong adanya sistem deteksi dini berbasis digital untuk mencegah praktik korupsi sejak awal, bukan sekadar bertindak setelah kasus mencuat. 

Desakan Reformasi Total 

Lebih jauh, Umar menekankan pentingnya reformasi menyeluruh dalam pelayanan publik, khususnya sektor perizinan. Digitalisasi, menurutnya, harus diiringi transparansi dan akuntabilitas agar tidak justru menjadi alat baru praktik korupsi. 

“Kalau sistem digital seperti OSS masih bisa dimanipulasi, berarti yang harus dibenahi bukan hanya teknologinya, tapi juga integritas aparatnya,” ujarnya. 

Ia juga mendesak Pemprov Jatim untuk melakukan investigasi internal secara menyeluruh dan menjatuhkan sanksi tegas kepada siapa pun yang terlibat.

Artikel Terbaru
Selasa, 20 Okt 2026 18:37 WIB | Politik & Pemerintahan

Rasiyo DPRD Jatim Minta Dinas Pendidikan Sisir Ijazah yang Belum Diserahkan ke Lulusan

Lingkaran.net - Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Rasiyo, mendukung sikap tegas Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang melarang sekolah menahan ...
Selasa, 20 Okt 2026 14:53 WIB | Politik & Pemerintahan

Darmawan Sutanto Tancap Gas, Gerindra Incar Takhta Bupati Ngawi

Lingkaran.net - Partai Gerindra mulai mengincar kekuasaan di Kabupaten Ngawi pada Pemilu 2029. Tak hanya membidik kemenangan legislatif, partai besutan ...
Selasa, 20 Okt 2026 10:50 WIB | Umum

Polri Bongkar Dugaan Keterlibatan Asing dalam Karhutla, 98 Kasus Korporasi Naik Penyidikan

Lingkaran.net - Polri mengusut 98 kasus korporasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, dengan dugaan keterlibatan pihak asing. Kapolri ...