x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Viral Gegara In This Economy, Ini 7 Fakta Gunung Kawi yang Bikin Penasaran

Avatar Redaksi

Hype

Lingkaran.net – Nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. 

Ketenaran Gunung Kawi dipakai untuk menyindir kondisi ekonomi yang terasa semakin berat. Di berbagai platform media sosial, muncul banyak unggahan bernada humor yang menyebut Gunung Kawi sebagai 'solusi' ketika pekerjaan sulit didapat, penghasilan tak kunjung naik, atau kebutuhan hidup terus membengkak. 

Candaan tersebut menggunakan frasa 'in this economy' untuk menggambarkan situasi ekonomi yang membuat seseorang seolah rela melakukan apa saja demi memperbaiki kondisi finansial. Termasuk mengaitkannya dengan stigma pesugihan yang selama ini melekat pada Gunung Kawi.

Meski hanya berupa meme dan satire yang viral, pembahasan tersebut kembali mengangkat nama Gunung Kawi ke ruang publik. Padahal, di balik berbagai cerita mistis yang beredar selama puluhan tahun, Gunung Kawi memiliki sejarah panjang sebagai destinasi wisata religi, budaya, dan ziarah yang hingga kini masih ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.

Berikut sejumlah fakta menarik tentang Gunung Kawi.

1. Dikenal Sebagai Kawasan Pesarean

Banyak orang mengira Gunung Kawi adalah sebuah gunung yang menjadi lokasi ritual. Padahal, yang dimaksud masyarakat selama ini adalah kawasan Pesarean Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

Lokasi ini merupakan kompleks makam dua tokoh yang sangat dihormati masyarakat, yakni Eyang Djoego atau Raden Mas Soeryo Koesoemo (Kiai Zakaria II) dan Raden Mas Iman Soedjono.

2. Sudah Menjadi Tujuan Wisata Religi Sejak Puluhan Tahun

Jauh sebelum ramai di media sosial, Gunung Kawi telah dikenal sebagai salah satu tujuan wisata religi terbesar di Jawa Timur.

Peziarah datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara, untuk berdoa, berziarah, serta mengenang jasa kedua tokoh tersebut.

3. Memiliki Tradisi Budaya yang Masih Dilestarikan

Setiap memasuki 1 Suro atau 1 Muharam, kawasan Gunung Kawi selalu dipadati pengunjung.

Masyarakat menggelar berbagai kegiatan budaya seperti kirab, doa bersama, hingga tradisi tabur bunga. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal.

4. Stigma Pesugihan

Gunung Kawi memang identik dengan cerita pesugihan. Berbagai kisah mengenai orang yang datang mencari kekayaan secara instan telah beredar sejak puluhan tahun lalu.

Namun hingga kini, cerita tersebut lebih banyak berkembang sebagai kepercayaan dan mitos di masyarakat. Tidak ada bukti ilmiah yang dapat membenarkan berbagai kisah tersebut.

5. Banyak Pengusaha Hingga Tokoh Publik Pernah Berkunjung

Selain peziarah biasa, kawasan Gunung Kawi juga pernah dikunjungi pengusaha, pejabat, artis, hingga tokoh masyarakat.

Namun, kedatangan mereka tidak selalu berkaitan dengan ritual mistis. Beberapa datang untuk berziarah, berwisata budaya, hingga membuat konten atau dokumentasi. Hal ini juga ditegaskan dalam klarifikasi sejumlah pihak yang namanya sempat dikaitkan dengan isu pesugihan.

6. Menjadi Simbol Akulturasi Budaya

Salah satu keunikan Gunung Kawi adalah keberadaan bangunan bergaya Jawa dan Tionghoa yang berdampingan.

Di kawasan ini juga terdapat tempat ibadah yang menunjukkan akulturasi budaya dan kerukunan antarumat beragama yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

7. Kini Lebih Dikenal sebagai Destinasi Wisata Religi

Pemerintah dan pengelola kawasan terus mendorong citra Gunung Kawi sebagai destinasi wisata religi, sejarah, dan budaya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga mengajak masyarakat melihat Gunung Kawi secara lebih utuh sebagai bagian dari mozaik budaya Indonesia, bukan semata-mata dikaitkan dengan narasi pesugihan yang belakangan kembali viral di media sosial.

Maraknya pembahasan Gunung Kawi di media sosial memang membuat rasa penasaran masyarakat meningkat. Namun di balik berbagai cerita mistis yang beredar, kawasan ini memiliki nilai sejarah, budaya, dan religi yang jauh lebih besar. 

Karena itu, memahami Gunung Kawi secara utuh akan memberikan perspektif yang lebih seimbang dibanding hanya melihatnya dari cerita-cerita yang belum tentu dapat dibuktikan kebenarannya.

Artikel Terbaru
Kamis, 20 Agu 2026 13:50 WIB | Ekbis

Wisnu Wardhana Resmi Daftar Ketua Demokrat Jatim, Emil Dardak Kapan?

Lingkaran.net - Peta pertarungan perebutan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur periode 2026-2031 mulai berubah. Wisnu Wardhana resmi menyerahkan ...
Rabu, 19 Agu 2026 14:37 WIB | Ekbis

H-1 Pendaftaran Ditutup, Panitia Klaim Emil Dardak Sudah Pegang Formulir Musda Demokrat Jatim

Lingkaran.net - Kontestasi perebutan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur dalam Musyawarah Daerah (Musda) VII mulai memasuki fase krusial. Memasuki H-1 ...
Rabu, 19 Agu 2026 11:58 WIB | Politik & Pemerintahan

Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko Bedah 4 Pilar Perda Hunian Layak

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia menjadi momentum reflektif bagi jajaran legislatif Kota Pahlawan. ...