x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Untag Surabaya Ubah Limbah Cair Kerupuk Ikan Menjadi Pupuk Organik Cair Untuk UMKM Desa Srowo

Avatar Trisna Eka Aditya

Edukasi

Lingkaran.net - Limbah cair industri kerupuk ikan yang selama ini hanya menjadi sumber pencemaran lingkungan kini berhasil diolah menjadi pupuk organik cair (POC) berbasis asam amino melalui program pemberdayaan masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Inovasi tersebut diterapkan oleh mahasiswa bersama dosen pelaksana di Desa Srowo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, dengan memanfaatkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa mesin Dry Press.

Program bertajuk 'Optimalisasi Limbah Cair UMKM Kerupuk Ikan Menjadi Pupuk Organik Cair (POC) Asam Amino Menggunakan TTG Mesin Dry Press' dilaksanakan di Unit Pengolahan dan Pengembangan BUMDesa Pahala bersama mitra UMKM Muhammad Asykuri pada Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Untag Surabaya dalam mendorong penerapan inovasi teknologi yang mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha masyarakat.

Melalui mesin Dry Press, limbah cair hasil pengolahan ikan dipisahkan secara mekanis dari padatan sehingga menghasilkan cairan yang kemudian difermentasi menjadi pupuk organik cair kaya asam amino. Teknologi tersebut tidak hanya mengurangi potensi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang lahirnya produk baru yang bernilai ekonomi bagi pelaku UMKM.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa bersama dosen pelaksana memberikan pendampingan secara menyeluruh kepada mitra. Pendampingan meliputi pengoperasian mesin, teknik ekstraksi limbah, proses fermentasi, hingga cara memanfaatkan pupuk organik cair sebagai nutrisi tanaman. Selain itu, peserta juga memperoleh edukasi mengenai konsep ekonomi sirkular yang mengubah limbah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi.

Dosen pelaksana sekaligus dosen pendamping kegiatan, Mahya Indra Tama, S.TP., M.T., mengatakan bahwa teknologi yang diterapkan dirancang agar mudah dioperasikan masyarakat serta mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi pelaku usaha.

"Program ini bukan sekadar menyerahkan sebuah mesin kepada masyarakat. Yang lebih penting adalah mentransfer pengetahuan dan keterampilan agar pelaku UMKM mampu mengolah limbah secara mandiri menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Kami berharap teknologi ini dapat meningkatkan efisiensi usaha sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan," ujarnya.

Menurut Mahya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil penelitian dan inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

"Melalui pemberdayaan masyarakat, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi tepat guna dapat menjadi solusi nyata bagi persoalan yang dihadapi pelaku UMKM. Ketika limbah mampu diubah menjadi produk yang bernilai ekonomi, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan masyarakat," tambahnya.

Sementara itu, mitra UMKM, Muhammad Asykuri, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui pendampingan yang dilakukan mahasiswa dan dosen Untag Surabaya. Selama ini limbah cair hasil produksi kerupuk ikan belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya menjadi sisa produksi.

"Kami sangat terbantu dengan adanya program ini. Sebelumnya limbah cair hanya kami buang karena belum mengetahui cara mengolahnya. Sekarang kami belajar bahwa limbah tersebut ternyata bisa diolah menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat untuk tanaman bahkan memiliki peluang untuk dipasarkan," ungkap Asykuri.

Ia berharap pendampingan tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi terus berlanjut hingga pengembangan produk dan pemasaran sehingga manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat dapat semakin besar.

Melalui kolaborasi antara mahasiswa, dosen pelaksana, Pemerintah Desa Srowo, BUMDesa Pahala, dan pelaku UMKM, Untag Surabaya berharap model pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna ini dapat direplikasi di berbagai sentra pengolahan hasil perikanan. Dengan demikian, limbah tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menciptakan peluang usaha baru sekaligus mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.

Artikel Terbaru
Selasa, 20 Okt 2026 18:37 WIB | Politik & Pemerintahan

Rasiyo DPRD Jatim Minta Dinas Pendidikan Sisir Ijazah yang Belum Diserahkan ke Lulusan

Lingkaran.net - Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Rasiyo, mendukung sikap tegas Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak yang melarang sekolah menahan ...
Selasa, 20 Okt 2026 17:57 WIB | Politik & Pemerintahan

Ijazah Siswa Tak Diambil karena Takut Ditagih Komite, Wagub Emil Turun Tangan

Lingkaran.net - Ijazah lulusan SMA/SMK di Jawa Timur diduga tak kunjung diambil bukan semata karena siswa mengabaikannya, melainkan lantaran takut ditagih ...
Selasa, 20 Okt 2026 14:53 WIB | Politik & Pemerintahan

Darmawan Sutanto Tancap Gas, Gerindra Incar Takhta Bupati Ngawi

Lingkaran.net - Partai Gerindra mulai mengincar kekuasaan di Kabupaten Ngawi pada Pemilu 2029. Tak hanya membidik kemenangan legislatif, partai besutan ...