x lingkaran.net skyscraper
x lingkaran.net skyscraper

Ada 579 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Jatim Pada Triwulan Pertama, Ini Respon Fraksi PDIP DPRD Jatim

Avatar Redaksi

Umum

Surabaya, Lingkaran.net Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Timur melonjak tajam. Sepanjang triwulan pertama tahun 2025 saja, tercatat 579 kasus dilaporkan—menjadikan provinsi ini sebagai yang tertinggi di Indonesia.

Kondisi ini menjadi sorotan tajam Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, yang mendesak adanya langkah konkret dan sinergi kebijakan antara pemerintah daerah dan pusat.

Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno, menyatakan keprihatinannya terhadap tingginya angka kekerasan yang terjadi di lingkungan rumah tangga, tempat kerja, fasilitas umum, hingga sekolah.

“Ini bukan hanya angka, ini tentang nyawa, masa depan, dan harkat perempuan serta anak-anak kita. Kita tak boleh diam,” tegasnya, Rabu (23/4).

Menurutnya, masih banyak kabupaten/kota di Jawa Timur yang memiliki Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) rendah.

“Sampang, Malang, Probolinggo, misalnya, IDG-nya masih di bawah angka 90. Artinya, masih ada ketimpangan besar yang harus segera dijembatani dengan kebijakan pro-perempuan,” ujar Untari yang juga Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jatim.

Ia menilai, komitmen perlindungan perempuan dan anak tak cukup hanya dengan perda. Diperlukan penajaman program, efisiensi anggaran yang berpihak, serta penguatan pelaksanaan di lapangan.

“Perda kita sudah ada, tinggal bagaimana kita perkuat implementasinya, terutama di wilayah-wilayah rawan,” jelasnya.

Data terbaru menunjukkan, Kabupaten Pasuruan mencatatkan angka tertinggi kekerasan dengan 80 kasus, disusul Tuban (68), Sidoarjo (56), Mojokerto (49), dan Kota Malang (44). Ironisnya, sebagian besar kekerasan terjadi dalam rumah tangga, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi perempuan dan anak.

Komisi E, kata Untari, terus mendorong keberlanjutan program strategis seperti Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) agar perlindungan menjangkau hingga akar rumput.

“Perlindungan tak boleh berhenti di kota. Desa-desa juga butuh sentuhan. Program DRPPA adalah jembatan penting untuk itu,” ujarnya.

Untari juga mengapresiasi perhatian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPA) yang dinilai sangat terbuka untuk berkolaborasi.

“Kami siap mendukung penuh. Tetapi penanganan kekerasan harus melibatkan semua pihak: pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, hingga tokoh lokal. Tanpa kolaborasi, solusi tak akan menyentuh akar persoalan,” tutupnya. Alkalifi Abiyu

Artikel Terbaru
Selasa, 20 Okt 2026 17:57 WIB | Politik & Pemerintahan

Ijazah Siswa Tak Diambil karena Takut Ditagih Komite, Wagub Emil Turun Tangan

Lingkaran.net - Ijazah lulusan SMA/SMK di Jawa Timur diduga tak kunjung diambil bukan semata karena siswa mengabaikannya, melainkan lantaran takut ditagih ...
Selasa, 20 Okt 2026 14:53 WIB | Politik & Pemerintahan

Darmawan Sutanto Tancap Gas, Gerindra Incar Takhta Bupati Ngawi

Lingkaran.net - Partai Gerindra mulai mengincar kekuasaan di Kabupaten Ngawi pada Pemilu 2029. Tak hanya membidik kemenangan legislatif, partai besutan ...
Selasa, 20 Okt 2026 10:50 WIB | Umum

Polri Bongkar Dugaan Keterlibatan Asing dalam Karhutla, 98 Kasus Korporasi Naik Penyidikan

Lingkaran.net - Polri mengusut 98 kasus korporasi terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, dengan dugaan keterlibatan pihak asing. Kapolri ...